Jumat, 07 September 2012

Maiyahan Udinus

Libur semester telah berakhir, dan rutinitas kehidupan mahasiswa pun kembali bergulir. Ah, seperti yang dulu-dulu juga sih. Yang agak jadi persoalan adalah kemudian butuh adaptasi lagi dari seorang pengangguran rumahan menjadi seorang mahasiswa sibuk (aku tak benar-benar tahu apakah ini disibukkan atau menyibukkan hahaha). Aku butuh bekal motivasi untuk mengarungi semester ini. Ya, benar, aku memang tergolang manusia modern lemah, yang bahkan untuk menyeduh kopi saja butuh dorongan motivasi. Hingga saat mendapati ada maiyahan di Udinus, Semarang pada Senin (3/9), dalam rangka penerimaan mahasiswa baru angkatan 2012 aku pun berpikir tak ada alasan kuat untuk tak menghadiri acara tersebut. Yah, hitung-hitung bisa jadi bekal motivasi juga sebagai manusia lemah hehe. Bagiku, kucuran ilmu yang kudapat bisa mengisi optimisme hidup yang kian keras saja. Seperti biasanya, Cak Nun datang bersama rombongan KiaiKanjeng. Pada kesempatan itu hadir pula Novia Kolopaking, istrinya, untuk ikut mengisi beberapa nomor lagu. 

Membahas tema pendidikan karakter, Cak Nun mengkorelasikannya dengan esensi toleransi dalam beragama. Beberapa mahasiswa dari berbagai kepercayaan diminta naik panggung untuk berbagi sedikit mengenai agama yang dianutnya. Pada suatu momen, Cak Nun meminta salah seorang mahasiswa Nasrani untuk menyayikan Malam Kudus dan kemudian beliau menyayikan lagu tersebut, namun dengan lirik yang relah diganti dengan nafas Islami. Lewat itu beliau menyatakan bahwa tidak ada yang namanya lagu Nasrani, lagu Islami, ataupun lagu-lagu dengan embel-embel agama lainnya karena pada dasarnya bisa dinyayikan oleh siapa saja dengan izin. Hal itu dapat dianalogikan pula seperti baju yang kita kenakan. Bukankah, seorang Kyai boleh meminjamkan bajunya kepada seorang Nasrani begitu juga sebaliknya? Untuk merangkum esensi dari itu semua, Kiakanjeng pun , melantunkan Shalawat Global, dimana lagu tersebut mencakup beberapa unsur nada yang jamak dibawakan oleh umat agama, namun dengan lirik berisi puji-pujian terhadap Sang Rasul dan gamelan khas KK. Aku melihat Indonesia harus secapatnya menerapkan nilai toleransi beragama tersebut jika tak ingin terpecah belah dan termanifestasi dalam berbagai bentrok dan kerusuhan seperti yang akhir-akhir ini jamak kita temui. 

Paling tidak sore itu aku pulang dengan rasa optimisme dan hati yang tersenyum ketika maiyahan ditutup dengan lagu Kemesraan :)