Jumat, 05 September 2014

Life is Like Photography

Fotografi. Sejak pertama kali aku mengenal, maksudku menekuni dunia ini, hampir 6 tahun yang lalu, baru sekarang aku dapat menyimpulkan makna di balik fotografi. Aku curiga kalau si penemu dan pembuat kamera menyisipkan rahasia di balik sebuah kamera. Rahasia kehidupan! Degg! Yay, setelah melalui serangkaian jepret-menjepret, dari kamera saku, ponsel, DSLR, ponsel pintar, hingga DSLR rusak dan beberapa kali perenungan mendalam di bilik renung, aku dapat menarik sebuah nilai filosofis dari fotografi. Nilai yang lebih dalam dari sekadar penyampaian pesan melalui gambar. Nilai kehidupan! Mari kita kuak lebih dalam! Jangan sampai tertidur. Siapkan secangkir semangat!

         Kamera boleh minjem temen


Fotografi dapat kita analogikan sebagai kehidupan. Kenapa eh kenapa? Karena eh karena: KOMPENSASI. As we all know, making a photograph requires some kind of settings (if you are using advanced a DSLR camera or a camera with manual setting, you’ll easily understand it). It’s science, vro! Here it is the explanations (maaf keterusen pake English abis enak sih) *ngehek. Fotografi adalah tentang kompensasi. Untuk  menghasilkan sebah foto, scientifically, semua part kamera berkonspirasi satu sama lain, membentuk harmoni. KONSPIRASI! Ambil contoh, kamu moto pake auto mode biar gampang, siang-siang dah pas cahaya melimpah. Let's say shutter speed will be set at 1/400. Aperture will automatically be set at f 5.6. Aperture tau apa yang harus dia lakukan agar foto yang dihasilkan fairly good, ketika si shutter mengatur kecepatannta pada 1/400. Begitu pula ISO, dia harus tau seberapa sensitivitas yang kudu ditetapkan agar foto tak buyar, ambyar, tumpeh. 


Layaknya fotografi, hidup pun begitu. Kamu ingin sesuatu, maka kamu harus melakukan sesuatu, atau mengorbankan sesuatu. Harus ada perimbangan antara hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu itu, baik secara langsung ataupun tidak. Ambil contoh, hmmm...bikin sendiri aja yak, banyak kok di sehari-hari kita. Tinggal rediscover aja. 


Nah gitu saripati yang bisa diambil dari fotografi, according to my personal thouught. Masih banyak sih sebenernya, tapi lanjut di next posting aja deh. 


Salaaaaaaam...........klik. *ampun oom Arbain 😁

Jangan lupa follow instagramku @higuanief yay

1 komentar:

  1. sepakat sih, menurutku seorang photographer sejati itu adalah seorang yang bijaksana dan unik. Why? Seorang photographer itu bisa melihat sisi lain dari suatu object yang dibidiknya, yang orang lain tidak bisa melihatnya. Seorang photographer sejati bisa menemukan keindahan dari suatu hal yang mungkin orang lain tidak pernah menganggapnya sama sekali. Contohnya, sampah aja kalau ditangan photographer bisa keliatan indah dan menarik. padahal cuma sampah. Jadi, menurutku keren aja.. hahaha

    Aku suka moto-moto, tapi gak bisa potograpi.. hahaha piye jal..

    Nb : tatanan blogmu di layar monitor terlihat masih berantakan. terutama di bagian archieved itu penampakannya aneh, soalnya karena kolomnya sempit sementara tulisannya panjang, jadi tulisannya jadi vertikal...:D

    BalasHapus