Senin, 08 September 2014

Menunggu


Menunggu itu seni.
Menunggu tak melulu membosankan. Menunggu merupakan jeda antara awal dan tujuan. Adalah proses yang berandil dalam mencapai tujuan itu sendiri. Bayangkan gerimis yang turun dari langit. Apa yang membuatnya indah? Adalah proses dari turunnya air hujan itu dari awan ke tanah. Hingga muncullah gemericik, petrikor, hingga pelangi. Jadi isilah jedamu, nikmati masa tunggumu. Hingga tujuan yang kau dapat pun akan terasa lebih bermakna. 



Jumat, 05 September 2014

Life is Like Photography

Fotografi. Sejak pertama kali aku mengenal, maksudku menekuni dunia ini, hampir 6 tahun yang lalu, baru sekarang aku dapat menyimpulkan makna di balik fotografi. Aku curiga kalau si penemu dan pembuat kamera menyisipkan rahasia di balik sebuah kamera. Rahasia kehidupan! Degg! Yay, setelah melalui serangkaian jepret-menjepret, dari kamera saku, ponsel, DSLR, ponsel pintar, hingga DSLR rusak dan beberapa kali perenungan mendalam di bilik renung, aku dapat menarik sebuah nilai filosofis dari fotografi. Nilai yang lebih dalam dari sekadar penyampaian pesan melalui gambar. Nilai kehidupan! Mari kita kuak lebih dalam! Jangan sampai tertidur. Siapkan secangkir semangat!

         Kamera boleh minjem temen


Fotografi dapat kita analogikan sebagai kehidupan. Kenapa eh kenapa? Karena eh karena: KOMPENSASI. As we all know, making a photograph requires some kind of settings (if you are using advanced a DSLR camera or a camera with manual setting, you’ll easily understand it). It’s science, vro! Here it is the explanations (maaf keterusen pake English abis enak sih) *ngehek. Fotografi adalah tentang kompensasi. Untuk  menghasilkan sebah foto, scientifically, semua part kamera berkonspirasi satu sama lain, membentuk harmoni. KONSPIRASI! Ambil contoh, kamu moto pake auto mode biar gampang, siang-siang dah pas cahaya melimpah. Let's say shutter speed will be set at 1/400. Aperture will automatically be set at f 5.6. Aperture tau apa yang harus dia lakukan agar foto yang dihasilkan fairly good, ketika si shutter mengatur kecepatannta pada 1/400. Begitu pula ISO, dia harus tau seberapa sensitivitas yang kudu ditetapkan agar foto tak buyar, ambyar, tumpeh. 


Layaknya fotografi, hidup pun begitu. Kamu ingin sesuatu, maka kamu harus melakukan sesuatu, atau mengorbankan sesuatu. Harus ada perimbangan antara hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu itu, baik secara langsung ataupun tidak. Ambil contoh, hmmm...bikin sendiri aja yak, banyak kok di sehari-hari kita. Tinggal rediscover aja. 


Nah gitu saripati yang bisa diambil dari fotografi, according to my personal thouught. Masih banyak sih sebenernya, tapi lanjut di next posting aja deh. 


Salaaaaaaam...........klik. *ampun oom Arbain 😁

Jangan lupa follow instagramku @higuanief yay

Rabu, 03 September 2014

Rutinitas Pagi

*aku menaiki mesin waktu ke zaman SMA*

     Pagi itu di awal pekan, Ibu membangunkanku untuk Subuhan. Bapak menyeduh kopi sachetan gelas besar super manis. Kakak pertama duduk di depan televisi menyimak berita olahraga. Kakak kedua sibuk berdandan dan sarapan. Dan aku adalah anggota keluarga yang bangun paling siang. Mandi paling akhir, sarapan pun tak sempat. Bermodal menyeruput kopi Bapak yang hampir selalu dia sisakan, aku berangkat ke sekolah dengan kondisi super mengantuk akibat begadang menonton (pertandingan) bola semalam. Jika kebetulan aku berangkat membonceng, helm sengaja tak kupakai hingga sebelum perempatan Mewek (yang notabene adalah batas di mana polisi lalu lalang berpatroli) agar rambut basahku cepat kering sekaligus membentuk jambul yang kala itu menjadi favorit potongan rambut anak muda. Aku selalu tiba di kelas hanya beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi. Jam pertama selalu menyebalkan bagiku. Rasa kantuk dan lapar berakumulasi menjadi hilangnya konsentrasi akan materi pelajaran. Dan istirahat pertama menjadi pemecah kebuntuan itu melalui solusi kantin sekolah. 


From where I sat down

Minggu, 17 Agustus 2014

Untuk Dia


           Dia, adalah seorang yang masih remaja, yang mengurus dirinya sendiri kadang tak acuh. Hingga bahkan orang lain lebih memedulikannya ketimbang dirinya sendiri. Aku kadang berpikir bagaimana bisa dia terus-menerus menganiaya dirinya sendiri. Dia perlu disadarkan atas apa yg sedang dan telah dia lakukan. Pun dg potensi yg dia miliki. Dialah Indonesiaku.